upah.co.id – Lima siswi dari Italian Fashion School (IFS) unjuk gigi di .

Bertempat di Tent La Piazza, Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta. Kelima anak muda berbakat tersebut menampilkan busana Nusantara yang terinspirasi dari dan kehidupan urban warga Jakarta dalam konsep “Urbanize Batavia”.

Tema tersebut sengaja diangkat karena memiliki nilai-nilai yang sama dengan tema besar JF3 Fashion Festival tahun ini yang fokus dengan keragaman budaya lokal dalam tema Cultural Diversity.

“Kami memilih tema dan mengangkat busana khas dari Betawi karena masih banyak bisa dieksplorasi dari kebudayaan Betawi. Salah satunya soal pakaian.”

“Murid-murid kami memproduksi karya mereka dari khasanah kebudayaan Betawi itu,” kata founder IFS Diora Agnes dan Paska Ryanti di Jakarta, Jumat (3/9/2022).

Diora mengatakan, tema IFS yang mengusung “Urbanize Batavia” menggambarkan keragaman kebudayaan yang ada di Jakarta, di tengah perkembangan zaman serta pertemuan antara konteks keurbanan dengan tradisi.

Dengan kata lain, ini menjadi sebuah konsep desain yang tidak hanya hanya terinspirasi dari keindahan budaya Betawi , tapi juga dari semangat masyarakat kota Jakarta yang optimistis, kreatif dan inovatif.

“Tujuan dari fashion show ini selain bagian dari tugas akhir murid, juga menampilkan kreasi inovatif dari siswa-siswi IFS yang akan menjadi cikal bakal designer atau pelaku industri kreatif di dunia fashion,” ujar CEO PT Modesta Desain Indonesia yang membawahi IFS itu.

Rancangan busana bernuansa budaya Betawi

Dalam perhelatan JF3 kali ini, ada 5 murid IFS yang akan berpartisipasi.

Mereka adalah Amelia NS, Dina Mulya Sophieyadi, Maharani Dewi Armala, Mitha Tri Novianti, dan Theresia Dewi.

Kelimanya membuat karya dalam rancangan busana yang terinspirasi dari bermacam-macam kebudayaan khas Betawi.

Amelia, misalnya, terinspirasi dari ikon budaya Betawi yaitu ondel-ondel, batik, ornamen gigi balang dan kembang kelapa.

Karya Amelia yang meliputi busana bernuansa colorful dan memadukan desain metropolitan dan tradisional dengan motif batik print yang kemudian disebut sebagai Icon Batavia.

Sementara karya dari Dina mengambil inspirasi dari pencak silat Betawi yang melambangkan perjuangan, keadilan dan toleransi antar-suku bangsa.

Dina yang mengambil unsur kain sarung dan sabuk pakaian khas Betawi yang diaplikasikan dalam balutan busana ready to wear dan menyebut karyanya sebagai “Jawara Betawi”.

Begitu pula dengan Maharani yang terinspirasi dari jajanan manis khas Betawi, yaitu kue pepe.

Dengan memadukan siluet kebaya, warna-warni yang kuat yang dimodifikasi dengan gaya modern dan ready to wear, Maharani menamai koleksinya sebagai PeTropolitan.

Kemudian, Mitha menjadikan tarian tradisional Betawi sebagai inspirasi menghasilkan koleksinya kali ini.

Dalam koleksi yang elegan, ia menampilkan unsur modern tapi tetap menampilkan unsur etnik di dalam rancangan busana Mitha menamainya dengan Fussion of Classic.

Sementara karya Theresia terinspirasi dari kembang kelapa dan burung hong yang umumnya terdapat dalam motif .

Dalam karya itu, Theresia memadukan keindahan multi-kultur Kota Jakarta dan disajikan dalam ready to wear. Theresia menamai koleksinya ini sebagai Diffuseries.

Berdasarkan semua karya yang ditampilkan dalam JF3 Fashion Festival 2022 , kata Diora, IFS ingin menunjukkan bahwa busana tradisional itu tidak sekadar kebudayaan yang ditunjukkan pada hari-hari tertentu.

Sebab, busana tradisional itu berhubungan dengan nilai, asal-usul kehidupan dan ungkapan akan diri serta hubungannya dengan sebuah masyarakat.

“Kita juga akan merasakan kepuasaan lebih ketika mengenakan fashion yang berkaitan dengan tradisi kita.” pungkas Diora.