upah.co.id – Sebagai manusia, kita semua pasti mengalami pasang surut dalam kehidupan.

Merasa sedih dari waktu ke waktu bukanlah hal yang aneh, tetapi ketika hal itu terjadi dalam waktu yang sering, mungkin Anda sedang mengalami depresi .

Depresi adalah salah satu kondisi kesehatan mental yang paling umum, tersebar luas secara global dan salah satu yang paling disalahpahami.

Efek depresi lebih dari sekadar perasaan sedih. Beberapa orang bahkan menggambarkan depresi sebagai perasaan mati rasa.

Dilansir Pikiran-rakyat.com dari Psych Central, berikut ini merupakan beberapa efek yang dirasakan saat seseorang sedang mengalami depresi .

1. Perasaan putus asa, rasa bersalah, atau merasa tidak berharga

2. Perasaan kesepian atau kesedihan yang sering terjadi

3. Kehilangan konsentrasi

4. Kehilangan minat pada hal-hal yang biasa dilakukan dan menyenangkan

5. Kekurangan energi

6. Kesulitan tidur

7. Mengalami perubahan nafsu makan

8. Gelisah dan mudah marah

9. Memikirkan tentang kematian atau keinginan bunuh diri

Jika Anda telah mengalami sebagian besar gejala tersebut setiap hari selama dua minggu atau lebih, Anda mungkin memenuhi kriteria untuk diagnosis depresi .

Depresi dapat terlihat sangat berbeda dari orang ke orang, dan intensitas gejalanya juga dapat bervariasi. Juga, jika Anda mengalami depresi , Anda mungkin tidak mengalami setiap gejala .

Terdapat berbagai jenis depresi , gejala yang Anda alami bisa berbeda berdasarkan jenis depresi yang dialami.

Depresi dapat muncul secara berbeda pada anak-anak daripada pada orang dewasa. Beberapa gejala pada anak-anak dapat mencakup kecemasan atau perilaku cemas.

Ada berbagai cara untuk menemukan dukungan yang membantu Anda dalam mengelola setiap gejala yag dialami.

Anda dapat mulai dengan menjangkau orang-orang yang Anda percayai atau mendiskusikan kekhawatiran Anda dengan seorang profesional kesehatan.

Seorang profesional kesehatan mental juga dapat membantu mencari tahu apakah masalah Anda mungkin merupakan gejala depresi dan merekomendasikan perawatan jika diperlukan.

Berbicaralah dengan psikolog , psikiater, atau pekerja sosial klinis yang dapat mendiagnosis kondisi Anda.***