upah.co.id – Ribuan massa buruh yang berkumpul di depan Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat menjadi momentum yang tak dapat terlewatkan oleh para pedagang. Baru beberapa jam aksi digelar, dagangan para pedagang ini laku keras, bahkan ada yang ludes hampir setengahnya.

Mulai dari pedagang aksesoris hingga makanan menjajakan jualannya di tengah aksi demo siang ini. Subandrio misalnya, baru beberapa jam berjualan, siomai yang dijualnya tersisa seperempatnya.

“Pokoknya tadi bawa penuh. Sekarang alhamdulillah 150 biji lagi lah, lebih dari setengahnya udah laku,” ujar Subandrio di dekat pintu depan DPR RI, Jakarta Pusat, Selasa (6/9/2022).

Tidak lama kemudian, dagangannya ludes dan dia bisa membawa pulang Rp 400.000 lebih cepat daripada biasanya “Biasanya hari-hari biasa kalo nggak ada demo saya sampe malem, jam 1, jam 12-an. Itu baru abis, tapi kadang sisa juga. Alhamdulillah tengah hari udah segini, karena nggak ada makanan neng,” jelasnya.

Biasanya, Subandrio berjualan di Senayan City. Ia mengaku datang ke lokasi lantaran mau memanfaatkan peluang dengan jumlah massa aksi yang banyak.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Fahri, penjual makanan ringan. Fahri biasanya harus keliling hingga tengah malam, tapi kini baru 2-3 jam berkeliling di tempat aksi, dagangannya sudah laku 50 plastik. “Hari-hari biasa, paling baru laku 20 biji,” ungkap Fahri.

Oleh karena itu, ia sengaja datang jauh-jauh dari Tomang bersama dua rekannya untuk memanfaatkan momen unjuk rasa ini. Alhasil, dagangannya laku keras. “Untungnya dapet sekitar Rp 50-100 ribuan lah,” jelasnya.

Massa aksi demo BBM hari ini banyak memborong produk makanan dan minuman. Penjual minuman keliling, Jumadi mengaku telah dua kali mengisi keranjang minumannya akibat ludes terbeli massa aksi.

“Yang habis sudah 20 botolan. Dari pas pada dateng aja saya sudah di sini,” ungkap Jumadi.

Ia mengatakan, minuman dan makanan memang yang paling dicari apalagi waktu aksi bertepatan dengan jam makan siang. “Ya alhamdulillah untung dapet di sekitar Rp 70 ribuan ada padahal baru beberapa jam,” ujar Jumadi.

Tidak hanya pedagang makanan dan minuman, ada juga penjual aksesoris seperti kacamata dan jam tangan yang turut hadir mengincar pembeli. “Saya baru sampai, baru lima menit. Lihat ramai-ramai jadi langsung datang aja ke sini,” terang Edi.

Meski baru sampai, dari jauh terlihat beberapa masa aksi mengerubungi lapak tempat Edi berjualan jam tangan dan kacamata. Satu buah jam tangan pun laku terjual. “Baru satu ini yang laku. Dapet sekitar Rp 25 ribuan untungnya,” katanya.

Meski baru laku satu, hal ini termasuk cepat mengingat ia baru beberapa menit hadir di lokasi. Sedangkan dalam sehari, ia biasa menjual 2 hingga 3 jam tangan atau kacamata.