upah.co.idJakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah sukses menguat melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (6/9/2022). Meski demikian, adanya demonstrasi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) Pertalite dan Solar membuat penguatan rupiah tertahan.

Melansir data Refinitiv, rupiah sempat menguat hingga 0,27% ke Rp 14.860/US$. Setelahnya penguatan rupiah terpangkas dan mengakhiri perdagangan di Rp 14.885/US$, menguat 0,1% di pasar spot.

Ribuan buruh melakukan aksi unjuk rasa hari ini, Selasa (6/9/2022). Menuntut kenaikan harga BBM dibatalkan. Disebutkan, untuk wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), aksi akan diikuti 3.000-5.000 orang yang dipusatkan di DPR RI.

Seperti diketahui, stabilitas dalam negeri juga menjadi salah satu penggerak rupiah. Ketika ada risiko stabilitas terganggu, maka akan mengganggu sentimen pelaku pasar, rupiah tentunya akan tertekan.

Selain itu, pergerakan rupiah juga dipengaruhi rah indeks dolar AS, serta pergerakan nilai tukar euro.

Indeks dolar AS terkoreksi hingga 0,36% ke 109,43 sore ini, setelah kemarin menyentuh 110,27, tertinggi dalam lebih dari 20 tahun terakhir.

Koreksi tersebut terjadi akibat nilai tukar euro yang mulai rebound. Seperti diketahui, euro memiliki porsi besar dalam membentuk indeks dolar AS, sebesar 57,6%.

Kemarin, euro sempat menyentuh US$ 0,9875, merosot 0,76% di pasar spot. Level tersebut merupakan yang terlemah sejak Desember 2002.

Jebloknya euro terjadi setelah penghentian pasokan gas ke Eropa diperpanjang. Perusahaan gas Rusia, Gazprom, sejatinya akan mengalirkan kembali gasnya ke Eropa melalui jaringan gas Nord Stream 1 pada Sabtu (3/9/2022) setelah menjalani perawatan sejak 31 Agustus.

Namun, Gazprom mengatakan bahwa mereka tidak bisa beroperasi sesuai jadwal, dan akan terhenti hingga waktu yang belum ditentukan.

“Penyaluran gas melalui Nord Stream 1 akan dihentikan sepenuhnya sampai permasalahan terkait peralatan (turbin) terselesaikan,” tulis Gazprom, seperti dikutip dariCNBC International.

Meski disebutkan sedang ada masalah turbin, tetapi banyak yang melihat penundaan tersebut sebagai langkah Presiden Vladimir Putin untuk menekan Eropa.

Jaringan Nord Stream 1 berkontribusi sekitar 35% gas di Benua Biru. Jaringan tersebut sebenarnya sudah membatasi kapasitas penyaluran hingga hanya 20% sejak Juni.

Dihentikannya penyaluran gas melalui Nord Stream 1 akan menghambat upaya negara-negara Eropa dalam mengisi kapasitas gas sebagai pasokan musim dingin. Dengan terus dihentikannya pasokan gas, harga energi menjadi meroket. Alhasil, inflasi meroket di Benua Biru akan terus tinggi.

Kurs euro pun jeblok, dan bisa memperparah inflasi. Alhasil, Benua Biru terancam mengalami resesi.

Tidak hanya Eropa, dunia juga diprediksi akan mengalami hal yang sama.

Namun, bank sentral Eropa (European Central Bank/ECB) yang akan mengumumkan kebijakan moneter di pekan ini membuat euro pada hari ini bangkit.

Sore ini, euro sudah menguat 0,55% ke US$ 0,9979.

ECB diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin guna meredam inflasi. Langkah agresif tersebut juga bisa membuat kurs euro menguat. Ketika euro menguat, maka tekanan inflasi juga bisa mereda.

Setidaknya langkah tersebut bisa memberikan sentimen positif ke pasar, ECB dilihat serius meredam inflasi, meski risiko resesi tetap tinggi, tetapi bisa menyelamatkan perekonomian dalam jangka panjang.

Sentimen positif tersebut membuat rupiah mampu menguat.

TIM RISET CNBC INDONESIA