upah.co.id – Hyper parenting atau yang biasa disebut dengan istilah helicopter parenting adalah pola asuh ketika orangtua cenderung memberikan perhatian yang berlebihan terhadap kehidupan anaknya, meskipun tujuannya baik.

Orangtua dengan pola asuh hyper parenting menganggap bahwa dengan mengendalikan setiap arah kehidupan anaknya, bisa menyelamatkan anak dari kekecewaan dan membantu anak menghadapi keadaan sulit dalam hidupnya.

Mereka menganggap bahwa satu-satunya cara menjadi orangtua yang baik adalah dengan mengatur setiap arah kehidupan anak , memecahkan setiap masalah yang dihadapi anak , dan melakukan sesuatu hal yang di luar kendali bagi anaknya.

Tanpa disadari, hyper parenting dapat menimbulkan dampak buruk bagi anak . Dikutip Pikiran-Rakyat.com dari Timeof India, berikut empat dampak buruk pola asuh hyper parenting bagi anak .

1. Perkembangan Emosional Anak Terhambat

Anak- anak dengan didikan pola asuh yang hyper parenting cenderung akan tumbuh menjadi kurang percaya diri dan kurang mandiri. Pasalnya, ketika orang tua mereka telah mengatur hidup mereka secara lama, mereka akan tumbuh menjadi anak yang kurang mandiri.

Selain itu, mereka jadi lebih gampang menyerah, merasa cemas dan takut dengan dunia luar. Hal ini dapat menyebabkan mereka merasa asing secara sosial.

2. Anak Rentan Depresi

Pola asuh hyper parenting dapat menyebabkan orang tua membentuk kebiasaan dengan mengatur anak – anak mereka tentang setiap hal kecil. Hal ini dapat mengakibatkan anak menjadi terlalu penurut.

Tak hanya itu, hal tersebut dapat menghambat kemampuan mereka dalam mengembangkan bakat dan potensi yang mereka miliki. Anak merasa terbatas dalam melakukan aktivitasnya karena mendapatkan banyak tekanan yang menyebabkan mereka tumbuh menjadi depresi.

3. Rentan Jadi Korban Bullying

Pola asuh yang berlebihan sering kali merebut kebebasan anak . Orang tua dengan pola asuh ini, cenderung tidak memberikan kebebasan yang cukup kepada anaknya mengakibatkan anak mendapatkan bullying. Hal tersebut dikarenakan anak kurang berkomunikasi dengan teman-temannya.

Aturan yang ketat menjadikan anak jauh dari teman-temannya dan menimbulkan efek buruk pada kemampuan komunikasi mereka.

4. Rawan Terkena Penyakit

Pola asuh hyper parenting dianggap membatasi jumlah waktu yang dinikmati anak di luar ruangan. Mereka sering tidak diizinkan bermain di luar, lantaran orang tua beranggapan bahwa mereka telah menjauhkan anaknya dari penyakit yang diakibatkan oleh kotoran dan debu.

Akan tetapi, pada kenyataannya, kotoran justru bagian dari perkembangan sistem kekebalan tubuh anak . Peneliti menunjukan, anak – anak yang tinggal di lingkungan steril semacam itu lebih rentan terhadap alergi dan penyakit, seperti asma.

Demikian empat dampak buruk yang ditimbulkan pola asuh hyper parenting. (Tazkia Falah Rahmani)***