upah.co.id – Menyusui merupakan pengalaman paling berharga bagi seorang ibu yang baru saja melahirkan buah hatinya.

ASI atau Air Susu Ibu sangat dibutuhkan oleh bayi agar pertumbuhan anak semakin maksimal.

Namun, bagi seorang ibu perlu diwaspadai agar tak terkena mastitis saat pasca persalinan.

Mastitis merupakan infeksi pada jaringan salah satu atau kelenjar susu di dalam payudara sehingga dapat mempengaruhi ibu menyusui dalam memproduksi susu dan menyusui.

Secara klinis, saat seorang wanita mengalami mastitis daerah payudara akan terasa panas, bengkak, berbentuk baji yang dapat menyebabkan demam, menggigil, sakit seperti flu, dan penyakit sistemik.

Seorang peneliti mengungkapkan bahwa 33 persen wanita menyusui rentan mengalami mastitis , terutama pada beberapa minggu pertama pasca persalinan.

Seorang dokter anak dan direktur medis Aeroflow Breast Pumps, Jessica Madden mengungkapkan, penyakit mastitis tidak hanya terjadi pada wanita yang sedang menyusui saja, namun juga terjadi pada seorang ibu yang menyusui kombinasi dengan susu formula.

“Mastitis dapat terjadi pada ibu yang menyusui secara eksklusif, menyusui bayi kembar, atau menyusui kombinasi dengan susu formula. Jika payudaramu menghasilkan susu, kamu berisiko,” kata Jessica Madden.

Penyakit mastitis saat pasca lahiran biasanya disebabkan oleh saluran yang tersumbat.

Penyumbatan tersebut menyebabkan ASI statis, maksudnya, ketika ASI yang dihasilkan tidak keluar saat menyusui dan tetap berada di payudara .

Selain itu, penyebab terkena mastitis karena tekanan pada payudara yang disebabkan oleh pakaian yang ketat.

Seorang ibu yang sering meletakkan jari di tempat yang sama setiap hari untuk menjauhkan payudara dari hidung bayi juga dapat menyebabkan saluran menjadi tersumbat.

Jessica mengungkapkan, penyebab utama mastitis lainnya adalah karena terdapat luka atau lecet pada puting ibu menyusui yang didapat saat menyusui bayi di payudara atau saat memompa.

Perlekatan yang buruk pada payudara atau hisapan yang tidak efektif dari sang buah hati juga dapat memotong atau merusak putting yang dapat menyebabkan infeksi.

Meskipun ibu menyusui rentan terkena mastitis , namun seorang wanita dapat mencegah terkena mastitis lebih awal dengan cara melakukan beberapa pencegahan di antaranya:

1. Mendapatkan bantuan lebih awal dari konsultan laktasi bersertifikat.

2. Hindari bra yang ketat atau bra dengan underwire

3. Pertimbangkan untuk mengonsumsi probiotik

Sementara itu, bagi seorang ibu yang terjangkit mastitis juga dapat disembuhkan oleh pengobatan dengan pengobatan syadaya seperti memastikan bahwa payudara dikeringkan dengan benar selama menyusui.

Selain itu, segera periksalah ke dokter agar dapat diresepkan antibiotik untuk mengobati infeksi. Bagi seorang yang memiliki gejala mastitis cukup serius akan memerlukan waktu pengobatan antibiotik selama 10 hingga 14 hari.

Dalam kasus ini, ASI harus dikeluarkan dari payudara yang terkena karena hal ini merupakan cara yang baik untuk mempercepat pemulihan mastitis .***