upah.co.id – PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) optimis kinerja tahun ini bisa tetap tumbuh signifikan. Finance Director & Corporate Secretary BFI Finance, Sudjono optimistis tahun ini laba perusahaan bisa tembus angka tertinggi, seperti di 2018 atau sebelum Covid-19 menyerang.

Seperti diketahui, laba BFIN di 2018 mencapai Rp 1,46 triliun. Jika mengacu angka tersebut, maka tahun ini laba BFIN diproyeksikan tumbuh 29,20% dibandingkan perolehan di 2021 sebesar Rp 1,13 triliun.

“Pada 2022 kami masih optimis aset tumbuh 20% dan laba bersih bisa mencapai seperti sebelum Covid-19 datang,” jelas Sudjono Media Luncheon: Building the Next Chapter, Selasa, (6/9/2022).

Optimise BFIN, lanjut Sudjono, seiring proyeksi pembiayaan perusahaan yang diprediksi masih tumbuh tahun ini. Hingga akhir Juni 2022, dia menyebut total piutang yang dikelola (managed receivables) BFIN senilai Rp 16,8 triliun atau naik sebesar 23,3% year on year (yoy).

Portofolio pembiayaan dari managed receivables berdasarkan jenis aset konsumen didominasi oleh pembiayaan mobil bekas dan baru sebesar 69,97% atau senilai Rp 11,75 triliun. Selanjutnya disusul oleh pembiayaan alat berat dan mesin sebesar 11,97%, motor bekas 10,76%, property-backed financing 2,67%, dan sisanya berasal dari pembiayaan syariah dan chanelling dengan anak usaha, yakni Pinjam Modal.

Selain itu rapor kinerja yang sehat juga tampak dari rasio pembiayaan bermasalah (Non-Performing Financing/NPF) BFI Finance di posisi NPF bruto 1,08% dan NPF neto 0,31%. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Juni 2022, angka ini mencerminkan performa yang stabil dan jauh lebih baik dibandingkan rata-rata industri.

Dia pun menampik, kalau dikatakan kenaikan harga BBM akan berdampak terhadap kinerja perusahaan. Pasalnya, dia melihat daya beli masyarakat untuk kendaraan masih sangat tinggi.

“Kecuali dengan adanya kenaikan BBM terjadi huru hara, hal tersebut bisa mempengaruhi. Pengalaman kami cukup kebal, kita sudah mengalami tantangan yang 10 kali lebih berat, yakni saat Covid-19 tiba. Dari kondisi makro, BI sudah melakukan pro aktif make sure, dengan menaikkan acuan suku Bunga, secara makro ekonomi masih sehat,” jelasnya.