upah.co.id – Pernahkah Anda mencicipi bihun Luosifen, sejenis makanan khas asal Guangxi, China selatan? Bihun yang direbus bersama rebung asam, kacang kulit, kembang tahu (disebut Fucu di China) dan kacang panjang yang diasamkan ini berbau khas karena adanya sejumlah bumbu khusus termasuk kuah bekicot dan semakin menjadi popular di negara-negara Asia Tenggara.

Pada 31 Agustus lalu, total 6.960 porsi bihun Luosifen yang diproduksi oleh Luobawang Co., Ltd., salah satu merek Luosifen terkenal di China dimuat dan diberangkatkan di Pelabuhan Shekou di Guangdong, China selatan dan diperkirakan tiba di Malaysia 20 hari kemudian.

Gelombang bihun Luosifen ini akan dijual di Malaysia melalui diler daring maupun luring dan pada akhirnya dihidangkan di meja konsumen Malaysia.

Pada Juni 2021, teknik pembuatan bihun Luosifen Liuzhou dicantumkan ke dalam daftar warisan budaya takbenda nasional China.

Menurut data resmi, total pendapatan dari rantai industri bihun Luosifen di Liuzhou mencapai 50,16 miliar yuan (1 yuan = Rp2.144) pada 2021, dengan 15,197 miliar yuan di antaranya dari bihun Luosifen dalam kemasan, meningkat 38,23 persen.

Sementara itu, terdapat 235 gelombang bihun Luosifen Liuzhou yang sudah menyelesaikan proses pemantauan praperizinan bea cukai untuk diekspor. Beratnya melebihi 1.947 ton dengan total nilai mencapai 8,249 juta dolar AS (1 dolar AS = Rp14.879), dua angka tersebut masing-masing naik 63 persen dan 80 persen secara tahunan.

“Ekspor bihun Luosifen sudah menjadi kecenderungan perkembangan bisnis kami,” kata Ou Haoxuan, Manajer Umum Departemen Bisnis Luar Negeri dari Luobawang, dengan produk perusahaannya sudah diekspor ke lebih dari 40 negara dan kawasan.

Luobawang tidak ketinggalan dalam mengekspor produknya ke Asia Tenggara, sama dengan berbagai merek lain, Luobawang melakukan sejumlah penyesuaian untuk pasar Asia Tenggara.

“Kami menyadari banyak konsumen di negara-negara ASEAN suka beraneka ragam rempah sehingga aroma makanan kesukaannya lebih bervariasi juga. Kami meluncurkan beberapa jenis bihun Luosifen yang rasanya beradaptasi dengan selera warga ASEAN, supaya bihun itu lebih disukai kosumen lokal,” ujar Ou.

Menurut staf dari Asosiasi Industri Bihun Luosifen Liuzhou, penyesuaian lain termasuk menambah ilustrasi bahasa asing dan perbaikan dari sisi bahan baku yang diolah seperti guna memastikan produk ekspor mematuhi peraturan negara tujuannya. Walaupun ada beberapa perubahan dalam proses pembuatan, bihun yang ekspor itu dijaga aroma asli dengan baik.

Serangkaian peraturan untuk memantau kualitas produk Luosifen turut diluncurkan belakangan ini, secara lebih lanjut menjamin kualitas bihun yang tinggi.

“ASEAN adalah pasar bihun Luosifen yang potensinya amat besar, khususnya Indonesia, dengan sebagian besar konsumen suka rasa pedas, layak untuk bihun Luosifen dipromosikan. Jadi, Indonesia akan menjadi pasar vital untuk kami,” kata Ou.