upah.co.id – Batu bara masih menjadi ‘primadona’ untuk kebutuhan energi dunia dan untuk memompa perekonomian hingga industri. Dengan kebutuhan energi yang terus meningkat setiap tahunnya, batu bara masih memegang peran penting dan dinilai masih bisa terus berkembang.

Direktur PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Dileep Srivastava mengungkapkan meski dibutuhkan, masih banyak yang salah paham mengenai batu bara. Kini permintaan akan emas hitam ini tengah melonjak dan disertai oleh kenaikan harga yang fantastis.

“Ini adalah industri yang sering disalahpahami dan membutuhkan banyak dukungan, baik dari pemerintah, investor, atau bank institusional, mengingat ini situasi ketika baru saja memasuki era pasca pandemi dan mencoba untuk mengembangkan perekonomian,” kata Dileep kepada CNBC Indonesia belum lama ini.

Adanya krisis energi dan inflasi akibat konflik Rusia-Ukraina menurutnya masih akan berdampak pada sektor batu bara dalam lima tahun ke depan. Komoditas ini menurutnya akan memainkan peran penting sebagai bahan baku dan membangkitkan daya, selain dari energi baru terbarukan.

Dia menegaskan sektor batu bara masih menjanjikan dalam lima tahun ke depan meski menghadapi berbagai tantangan. Tantangan paling besar menurutnya dari perbankan dan institusi yang menilai batu bara sebagai sumber energi ‘kotor’.

“Yang lebih kita butuhkan adalah melihat Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) dan cleaner burn technologies agar dapat menggunakan batu bara dalam jangka panjang untuk kelangsungan hidup manusia dan memenuhi permintaan di masa depan,” ujarnya.

Tahun ini perusahaan menargetkan angka produksi di kisaran 85-90 juta ton, sayangnya target ini kemudian direvisi menjadi 78-83 juta ton karena cuaca buruk. BUMI juga berkomitmen memaksimalkan produksi dan fokus memenuhi kebutuhan domestik, baru selanjutnya ekspor.

“Dapat dikatakan sekitar 8-10 juta ton dapat diperdagangkan di pasar dengan harga yang menarik. Kami belum bisa melakukannya. Namun, saya berharap ketika cuaca membaik yang kemungkinan pada Agustus tahun ini, ketika La Nina usai, kami dapat beroperasi dalam skala normal,” kata Dileep.

“Kami memasok dan memenuhi komitmen domestik. Kami memprioritaskan penjualan domestik dibanding ekspor. Karena hujan lebat sejak Desember, meskipun produksi menurun, kami tetap memenuhi dan bahkan melampaui kebutuhan domestik di harga ekspor.”