upah.co.id – Cara menyapih anak yang baik dan benar menurut spesialis anak dr. Eva Devita Harmoniati, Sp.A (K) adalah dengan menerapkan proses secara bertahap.

“Jadi tidak mendadak, tapi memang dilakukan bertahap mulai dari saat anak diperkenalkan makanan padat,” ujarnya, sebagaimana dikutip Pikiran-Rakyat.com dari laman Mediakom Kementerian Kesehatan.

Lalu, kapan waktu yang tepat untuk menyapih seorang anak ?

dr. Eva Devita Harmoniati, Sp.A (K) menjelaskan bahwa waktu siap seorang anak untuk disapih itu berbeda-beda. Hal tersebut disebabkan oleh perbedaan tingkat kematangan emosional dan kedekatan seorang anak dengan sang ibu.

dr. Eva juga mengatakan, umumnya anak siap disapih itu saat memasuki usia 6 bulan, karena biasanya anak sudah mulai mengonsumsi makanan pendamping dari ASI (MPASI).

Namun, ada beberapa kondisi yang mengharuskan orangtua untuk menunda proses menyapih sang anaknya. Misalnya, ketika anak sedang sakit atau tumbuh gigi.

“Biasanya di usia 1 sampai 2 tahun itu sudah mulai banyak tumbuh gigi. Nah ini bisa menjadi satu pertanda juga atau suatu alasan kita boleh menunda penyapihan ya,” ujar dr. Eva.

dr. Eva Devita Harmoniati, Sp.A (K) menyampaikan ada beberapa proses yang dapat diterapkan oleh para orangtua , khususnya oleh sang ibu ketika hendak menyapih .

1. Proses menyapih dengan mengubah lama waktu dan frekuensi kebiasaan menyusu anak . Proses ini dapat dilakukan oleh para orangtua , khususnya sang ibu dengan perlahan-lahan.

Misalnya yang biasanya memakan waktu selama 30 menit untuk menyusu, sang ibu dapat menguranginya perlahan-lahan lama waktunya menjadi 25, 20, 15, dan seterusnya. Semakin hari semakin berkurang.

Kemudian, yang biasanya seorang anak menyusu tiga kali dalam sehari, dikurangi menjadi dua kali. Semakin berlanjut prosesnya, semakin sedikit frekuensi menyusu sang anak .

2. Proses menyapih dengan mengajak anak berkomunikasi juga dapat dipakai oleh para ibu. Salah satunya dengan memberikan penjelasan kepada sang anak bahwa dia sudah besar dan harus mulai minum susu di gelas atau menggunakan sedotan.

3. Orangtua juga dapat menggunakan metode mengalihkan perhatian atau memberi pengganti ASI . Sebelum sang anak menunjukkan tanda-tanda ingin menyusu, sang ibu dapat mengalihkannya kepada hal lain.

Misalnya memberikan cemilan atau makanan kesukaan dengan porsi yang lebih banyak sehingga anak cukup kenyang dan tidak akan meminta susu lagi.

Saat keinginan menyusu timbul saat malam hari, orangtua dapat mengalihkan perhatiannya dengan bernyanyi atau diajak larut dalam obrolan. Proses ini dapat membuat sang anak lupa dengan keinginannya karena sibuk dengan hal lain.

Itulah beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para orangtua , khususnya ibu yang hendak menyapih anaknya. Sebab proses menyapih adalah proses yang emosional, terlebih jika ASI eksklusif yang diberikan.

Proses menyapih juga membutuhkan kerja sama, tidak hanya ibu dan anak saja, tetapi perlu mengikutsertakan peran sang ayah di dalamnya.

dr. Eva juga menambahkan, bahwa ia tidak menganjurkan menyapih anak dengan menggunakan cara tradisional. Seperti halnya memberikan obat merah pada puting atau jamu-jamuan yang pahit agar anak menolak untuk menyusu.***