upah.co.idJakarta, CNBC Indonesia – Rupiah melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) di awal perdagangan Rabu (7/9/2022) setelah kemarin mampu menguat tipis. Indeks dolar AS yang kembali melesat ke level tertinggi dalam 20 tahun terakhir memberikan tekanan ke rupiah hingga kembali mendekati Rp 15.000/US$.

Begitu perdagangan dibuka, rupiah langsung melemah 0,13% ke Rp 14.905/US$. Depresiasi rupiah membengkak menjadi 0,3% ke Rp 14.830/US$ pada pukul 9:13 WIB.Kemarin indeks dolar AS sempat berbalik turun pasca menembus level 110, membuat rupiah mampu menguat kemarin.

Namun, pada perdagangan sesi Amerika Serikat indeks yang mengukur kekuatan dolar AS ini berbalik menguat 0,35% ke 110,21, bahkan sempat menyentuh 110,55 yang merupakan rekor tertinggi sejak Juni 2002. Pagi ini penguatan kembali berlanjut sebesar 0,24% ke 110,47.

Penguatan indeks dolar AS tersebut terjadi setelah rilis data purchasing managers’ index (PMI) sektor jasa yang naik 56,9 pada Agustus, lebih tinggi dari bulan sebelumnya 56,7. PMI sektor jasa kini menanjak dalam 2 bulan beruntun setelah menurun 3 bulan.

Rilis tersebut menunjukkan perekonomian Amerika Serikat masih kuat dan bank sentral AS (The Fed) akan tetap agresif dalam menaikkan suku bunga. Apalagi Departemen Tenaga Kerja AS Jumat pekan lalu melaporkan sepanjang bulan Agustus, perekonomian AS dilaporkan mampu menyerap tenaga kerja di luar sektor pertanian (non-farm payrolls/NFP) sebesar 315.000 orang, sedikit di bawah estimasi Dow Jones 318.000 orang.

Meski demikian, data tersebut sudah cukup menunjukkan jika pasar tenaga kerja AS masih kuat meski The Fed sudah 4 kali menaikkan suku bunga dengan total 225 basis poin menjadi 2,25% – 2,5%.

Tingkat pengangguran dilaporkan naik menjadi 3,7% sementara rata-rata upah naik 0,3% month-on-month dan 5,2% year-on-year.

Data tenaga kerja bulan Agustus menjadi penting, sebab akan menjadi pertimbangan bank sentral AS (The Fed) sebelum kembali menaikkan suku bunga bulan ini.

“Orang-orang sadar perekonomian Amerika Serikat sedang melambat, tetapi itu tidak seburuk negara lain,” kata Marc Chandler, kepala strategi pasar di Bannockburn Global Forex, sebagaimana dilansir CNBC International, Selasa (6/9/2022).

Selain itu, dari dalam negeri akan dirilis data cadangan devisa. Rilis tersebut bisa memberikan gambaran seberapa besar tekanan terhadap rupiah akibat isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) Pertalite dan Solar pada Agustus lalu.

Jika cadangan devisa turun, ada indikasi digunakan Bank Indonesia (BI) untuk intervensi menstabilkan rupiah. Artinya, tekanan dari isu kenaikan BBM cukup besar.

TIM RISET CNBC INDONESIA