upah.co.idJakarta, CNBC Indonesia – Harga batu bara mendingin setelah mencatatkan rekor tertingginya sepanjang masa. Pada perdagangan Selasa (6/9/2022), harga batu bara kontrak Oktober di pasar ICE Newcastle ditutup di US$ 451,25 per ton. Harganya melandai 2,70% dibandingkan hari sebelumnya.

Melandainya harga batu bara kemarin memutus rally panjang yang berlangsung sejak Kamis pekan lalu atau dalam enam hari terakhir.

Harga pasir hitam bahkan sempat mencetak rekor tertinggi dalam sejarah pada Senin (5/9/2022). Harga tersebut sekaligus melewati rekor sebelumnya yakni US$ 446 per ton yang tercatat pada 2 Maret 2022.

Dalam sepekan, harga batu bara masih melonjak 10,8% secara point to point. Dalam sebulan, harga batu bara terbang 30,1% sementara dalam setahun melesat 153%.

Merujuk data Refinitiv, harga batu bara memang langsung anjlok begitu mendekati puncak atau setelah mencetak rekor baru. Pada 3 Maret 2022, harga batu bara anjlok 19,6% dan terlempar dari level psikologis US$ 400 setelah mencetak rekor baru pada 2 Maret 2022.

Pada 12 Juli 222, harga batu bara juga kembali melambung hingga ke titik US$ 438,40 tetapi langsung melandai 2,2%. Pada 26 Juli, harga batu bara sempat menyentuh US$ 440 per ton tetapi kemudian melandai 3,6% pada hari berikutnya.

Berbeda dengan pasca rekor baru pada awal Maret lalu di mana harga batu bara langsung anjlok, pelemahan harga yang terjadi kemarin relatif tipis.

Harga batu bara bahkan masih ada dalam kisaran tertingginya sepanjang masa, hanya kalah dari catatan pada Senin.

Tipisnya pelemahan harga batu bara disebabkan masih tingginya permintaan akan komoditas tersebut.

Krisis energi yang memburuk di Eropa diyakini akan meningkatkan pemesanan batu bara. Pasalnya, Benua Biru tengah dikejar waktu untuk mengisi pasokan energi mereka menjelang musim dingin.

Seperti diketahui, krisis energi di Eropa memburuk setelah Rusia mengumumkan jika mereka tidak akan menyalurkan gas secara penuh melalui Nord Stream 1 hingga sanksi kepada Rusia dicabut. Artinya, Eropa harus berjuang keras memenuhi pasokan energi ke depan dan tidak bisa bergantung kepada Rusia.

Keputusan Rusia tidak hanya melambungkan gas alam tetapi juga batu bara yang merupakan sumber energi alternatif.”Kami bahkan tidak memiliki kepercayaan diri untuk memperkirakan outlook harga gas alam Eropa. Ini benar hal negatif yang terjadi ke Eropa. Semuanya sangat tergantung pada (Vladimir) Putin,” tutur Osamu Takashima, Citigroup Global Markets, seperti dikutip dari Reuters.

Jerman merupakan negara yang paling terdampak dari pemangkasan gas Rusia karena mereka konsumen terbesar. Jerman sudah mengoperasikan kembali pembangkit listrik batu bara mereka untuk mengkompensasi pasokan gas.

Mereka juga sudah meningkatkan pemesanan batu bara ke sejumlah produsen, mulai dari Australia, Indonesia, Afrika Selatan, hingga Kolombia.Impor batu bara diperkirakan akan melonjak pada September. Asosiasi perusahaan batu bara Jerman (VDKI) memperkirakan impor batu bara Jerman akan melonjak 50% dibandingkan Mei 2022 di mana impor mencapai 2,35 juta ton.

Upaya Jerman dalam mempercepat pasokan memang masih terkendala debit Sungai Rhine yang menyusut. Namun, persoalan tersebut diharapkan sudah membaik ke depan karena permukaan sungai sudah meningkat sehingga lalu lintas pengiriman bisa meningkat.

Jerman diperkirakan mengimpor batu bara sebanyak 32 juta ton untuk pembangkit listrik mereka, naik dibandingkan 27 juta ton pada tahun lalu.