upah.co.id – Industri perhotelan jadi salah satu yang terdampak dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi per Sabtu (3/9/2022).

Sebab, kenaikan ini tentunya mempengaruhi biaya operasional yang harus dikeluarkan, serta ditafsir bisa menurunkan permintaan pasar yang baru saja membaik pascapandemi Covid-19 sejak Maret 2020 lalu.

“Kenaikan BBM itu pada sektor perhotelan ada dua hal, satu dari sisi operational cost, yang kedua dari sisi marketnya,” kata Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia ( PHRI ), Maulana Yusran, kepada Kompas.com, Senin (5/9/2022).

Dari sisi operasional, kenaikan harga BBM berpengaruh langsung pada sektor transportasi. Inilah yang akan berdampak pada meningkatnya biaya operasional hotel dari pasokan bahan pokok.

“Kita itu kan punya berbagai macam supply untuk kebutuhan hotel, salah satunya bahan pokok. Jadi kalau dampak BBM meningkatkan harga bahan pokok, iya akan berdampak, operational costnya akan meningkat lagi,” ujarnya.

Belum lagi untuk keperluan amenities hotel seperti sabun, sandal, bahkan genset hotel. Semua hal ini terkena dampak langsung dari naiknya harga BBM.

Kenaikan tarif BBM bisa pengaruhi jumlah tamu

Menurut Yusran, kenaikan tarif BBM bisa saja memengaruhi jumlah tamu yang akan menginap di hotel.

“Okelah operational cost meningkat, lalu bagaimana dengan demand-nya? Demand itu dilihat dari daya belinya karena bagaimanapun yang namanya pariwisata itu membutuhkan daya beli masyarakat dulu,” kata Yusran.

Menurut dia, sisi demand harus melihat pergerakan dari wisatawan yang menjadi pasar hotel itu sendiri.

Contohnya, saat kenaikan harga tiket pesawat tahun 2019 yang menurunkan jumlah pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) dari yang tadinya sekitar 310 juta pada tahun 2019, menjadi sekitar 290 juta di tahun 2018.

“Itu kan pengaruhnya avtur, nah sekarang kalau BBM, sangat berpengaruh pada sektor transportasi darat dan laut. Apakah daya beli masyarakat untuk ber-traveling itu masih memungkinkan?” ujarnya.

Kenaikan tarif hotel

Yusran menuturkan bahwa terkait tarif, hotel bersifat dinasmis yang artinya akan ada perubahan setiap saat sesuai tingkat okupansi.

“Mana kala hotel sedang low season, dia akan menurunkan tarif itu dengan memberikan diskon, tergantung kebijakan masing-masing hotel. Jadi tarif hotel itu setiap hari berubah, bergantung pada okupansi,” tuturnya.

Inilah yang dikenal sebagai harga terbaik, atau Best Available Rate (BAR), atau publish rate dalam industri perhotelan.

“Jika okupansinya mendekati 80 sampai 90 persen, maka harganya akan menuju ke publish rate dan diskonnya akan mengecil,” katanya.

Menurut Yusran, yang menjadi pertanyaannya saat ini, apakah peningkatan okupansi yang terjadi sejak 2022 sudah bisa membuat hotel-hotel ini menjual kamar di publish rate?

Faktanya, sejak pandemi Covid-19 hingga saat ini hotel masih belum bisa menjual kamar di harga publish rate, sebab supply-nya masih terbilang besar.

Cara hotel menanggulangi kenaikan harga BBM

Lalu bagaimana cara menanggulangi kenaikan BBM di industri perhotelan?

Hotel akan serba salah, di satu sisi biaya operasional naik dan ingin menaikkan tarif kamar. Namun di sisi lain, jika tarif kamar naik, akan percuma bila permintaan pasar tidak ada.

Maka dari itu, kemungkinan besar hotel akan melakukan efisiensi dari berbagai hal, baik SDM maupun fasilitasnya.

“Kita juga melihat cara kita memfungsikan fasilitas, tentu kita harus realistis. seperti kalau suatu fasilitas ternyata belum berpotensi mendukung pendapatan hotel, itu ditutup dulu sementara, agar cost operationalnya juga realistis,” tutur Yusran.

Adapun terkait kenaikan tarif hotel , Yusran menyebut hal itu tergantung pada kebijakan masing-masing perusahaan. Sebab setiap perusahaan akan punya biaya operasional yang berbeda.

“Masing-masing hotel kan punya mekanisme terhadap operational cost, makanya mereka menetapkan tarif sesuai kebutuhan masing-masing,” tutur Yusran.

Kenaikan BBM ini menjadi langkah pemerintah Indonesia menghadapi gejolak minyak dunia. Maka dari itu, harga BBM di dalam negeri tidak bisa ditopang dengan memberikan subsidi dari APBN. Kondisi ini tentu berimbas pada pengendara motor yang memakai tiga jenis BBM tersebut. Termasuk para pengendara ojek online (ojol) yang menjadikan sepeda motor sebagai sumber mata pencaharian sehari-hari.

Ia melanjutkan, hotel juga akan butuh waktu untuk sosialisasi dengan pasar. Bedanya jika pesawat ada tarif batas atasnya, kalau di hotel tidak.