upah.co.id – Pemerintah resmi menaikkan harga solar subsidi dari Rp 5.150 per liter jadi Rp 6.800 per liter. Selain itu, ada rencana pembatasan pembelian yang sangat dirasakan efeknya pada pengusaha bus.

Per hari, bus cuma boleh mengisi solar subsidi sebanyak 200 liter. Pembatasan kuota pembelian ini yang bisa mengganggu operasional bus karena tidak cukup untuk satu kali jalan.

Ketua DPP Organda Bidan Angkutan Orang Kurnia Lesani Adnan mengajak pemerintah dan Pertamina berdialog untuk mencari solusi di tengah kenaikan harga BBM.

Pria yang akrab disapa Sani ini mengusulkan, ada mekanisme yang mengatur bagaimana bus dalam trayek atau di luar trayek (pariwisata) bisa mendapatkan solar sesuai kebutuhan.

“Pengguna kendaraan pribadi wajar dong dibatasi konsumsi BBM-nya, sementara angkutan umum seperti bus kan jelas unitnya, jelas rutenya, begitu juga konsumsi BBM hariannya,” kata Sani dikutip dari siaran resmi IPOMI, Selasa (6/9/2022).

Sementara itu, Ketua DPC Organda Jepara M. Iqbal Tosin mengatakan, pembatasan pembelian solar cukup menyulitkan pengusaha bus. Menurutnya, 200 liter per hari tidak cukup untuk bus dengan rute Jabodetabek-Jepara.

Sebagai ilustrasi, jika ditarik garis dari Terminal Poris Plawad di Tangerang ke Terminal Jepara, jaraknya 542 Km sampai 560 Km. Itu kalau dihitung tanpa berhenti, padahal bus harus mampir ke agen menjemput penumpang.

“Bus kami selama perjalanan dari Jabodetabek ke Jepara harus mampir ke titik keberangkatan penumpang atau terminal, gak hanya satu titik. Belum lagi macet di seputar Jabodetabek sampai Karawang atau Cikampek. Solar 200 liter ya kurang,” kata Iqbal.

Iqbal juga mengusulkan pemerintah untuk memberikan stimulus atau insentif pada angkutan umum. Dengan begitu, insentif yang diberikan bisa mengurangi beban operasional bus.

“Apakah mungkin, misalnya, ada pembedaan tarif tol antara kendaraan pribadi dengan bus? Sebagai insentif, perusahaan bus bisa mendapatkan potongan harga,” kata Iqbal.