upah.co.id – Ini karena baju hasil thrifting cenderung lebih murah, sehingga jadi pilihan baru bagi masyarakat Indonesia.

Sayangnya menurut Yuana, Kemenparekraf belum ada pembahasan khusus terkait hal ini, tapi ia berjanji akan memberikan awareness dan edukasi kepada masyarakat terkait baju bekas yang bisa mengancam brand fashion lokal.

“Lebih murah dan juga impor dari luar. Mungkin kita juga harus tanya ke Kemenperin ya tentang perindustrian, dan juga Kemendag, aturannya ada atau nggak untuk melarang itu sih yang kemudian menjadi tantangan buat kita,” ungkap Yuana.

Meski begitu, Yuana juga memastikan belum ada satupun brand lokal yang merasakan dampak terkait baju bekas hasil thrifting, tapi bukan tidak mungkin bisa jadi ancaman di kemudian hari.

“Nah ini bagaimana sekarang kita memberikan pengertian kepada masyarakat untuk terus meyakinkan mereka, bahwa brand lokal ini bagus bagus sebenarnya, lebih ke edukasi sih, jadi itu si mbak, edukasi,” tutur Yuana.

Apalagi menurutnya selain mengancam brand lokal, ada juga ancaman kesehatan yang membayangi baju thrift, seperti bakteri yang terbawa dari luar negeri karena tidak bisa menjamin bahwa baju tersebut bersih.

Selebihnya saat ini, kata Yuana, Kemenparekraf sudah menjalankan berbagai program untuk meningkatkan penjualan brand fashion lokal di Indonesia, dengan berbagai program seperti Bangga Buatan Indonesia.

“Bangga Buatan Indonesia ini kan, kenaikan kemarin Harbolnas kan kenaikannya sangat massif, kalau nggak salah sampai Rp 8 triliun ya untuk produk lokal. Itu keren banget dan itu ternyata berhasil loh kampanye ‘bangga buatan Indonesia’ ini lumayan,” ungkapnya.