upah.co.idJakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir menguat pada penutupan perdagangan sesi I Selasa (6/9/2022). Penguatan ini terjadi di tengah pro dan kontra terkait keputusan pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi.

IHSG dibuka menguat 0,43% di posisi 7.262,64 dan ditutup di zona hijau dengan apresiasi 0,11% atau 8,23 poin ke 7.240,12 pada penutupan perdagangan sesi pertama pukul 11:30 WIB. Nilai perdagangan tercatat naik ke Rp 9,11 triliun dengan melibatkan lebih dari 24 miliar saham.

Penguatan IHSG terjadi di tengah bayang-bayang sentimen negatif baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Apalagi, sejak pagi tadi ribuan massa aksi tiba di gedung DPR melakukan demo tolak kenaikan harga BBM.

Tetapi sentimen negatif ini masih tertutupi pasca harga batu bara mencatatkan rekor baru pada perdagangan Senin (5/9/2022), di mana harga batu bara kontrak Oktober di pasar ICE Newcastle ditutup di US$ 463,75 per ton. Harganya terbang 5,18% dibandingkan perdagangan terakhir pada Jumat pekan lalu.

Ini menjadi yang tertinggi dalam sejarah. Harga tersebut sekaligus melewati rekor sebelumnya, yakni US$ 446 per ton yang tercatat pada 2 Maret 2022 atau hanya beberapa hari setelah perang Rusia-Ukraina meletus.

Sementara saat ini pasar tengah mengantisipasi kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) yang masih akan hawkish. Pernyataan bos The Fed Jerome Powell telah memberi sinyal akan menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan September ini.

Pasar masih memperkirakan bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin (bps) untuk mengembalikan inflasi ke kisaran target 2%, meskipun harus berdampak negatif untuk rumah tangga dan pelaku bisnis.

Dari dalam negeri, sentimen masih terkait kenaikan BBM bersubsidi. Pada Sabtu (3/9/2022), pemerintah akhirnya mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite menjadi Rp 10.000 per liter, solar subsidi menjadi Rp 6.800 per liter dan Pertamax non subsidi menjadi Rp 14.500 per liter.

Analisis Teknikal

Pergerakan IHSG dianalisis berdasarkan periode waktu jam (hourly) dan menggunakan indikator Bollinger Band (BB) untuk menentukan area batas atas (resistance) dan batas bawah (support).

Jika melihat level penutupan IHSG dan indikator BB sesi I, indeks bergerak di dekat batas atas BB di 7.240.

Pergerakan IHSG juga dilihat dengan indikator teknikal lain yaitu Relative Strength Index (RSI) yang mengukur momentum.

Perlu diketahui, RSI merupakan indikator momentum yang membandingkan antara besaran kenaikan dan penurunan harga terkini dalam suatu periode waktu.

Indikator RSI berfungsi untuk mendeteksi kondisi jenuh beli (overbought) di atas level 70-80 dan jenuh jual (oversold) di bawah level 30-20. Indikator RSI mendekati level jenuh beli di 65.

Melihat indikator teknikal tersebut, peluang IHSG berpotensi terkoreksi terlebih dahulu dengan support di batas tengah BB 7.155 dan resisten di 7.250.

TIM RISET CNBC INDONESIA