upah.co.id – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) optimistis dengan potensi pertumbuhan ke depan yang didorong oleh tiga aspek. Tiga kunci pendorong tersebut adalah sumber pertumbuhan baru yang jelas, kapital yang cukup, dan likuiditas yang memadai.

Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan aspek pertumbuhan baru akan terus bertambah dan dapat dicapai melalui Holding Ultra Mikro (UMi).

“Sumber pertumbuhan baru dibangun melalui dibentuknya sinergi ekosistem ultra mikro dengan memasukkan PT Pegadaian dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) dalam BRI Group. Jadi, syarat pertama memiliki kejelasan sumber pertumbuhan baru,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (6/9/2022).

Mengacu pada data BRI Group sebagai induk Holding UMi per Juni 2022, terdapat sekitar 45 juta potensi nasabah ultra mikro yang dapat diberdayakan. Adapun 15 juta di antaranya sudah dapat mengakses lembaga pembiayaan formal.

Kemudian pada aspek yang kedua, lanjut Sunarso, BRI memiliki kapital yang cukup. Capital Adequacy Ratio (CAR) bank terbesar di Tanah Air ini per semester I-2022 sekitar 25%, naik 20% secara tahunan.

Menurutnya, persentase CAR saat ini membuat posisi keuangan BRI aman sehingga BRI punya keleluasaan menurunkan CAR dari level 25% saat ini ke level yang optimal di kisaran 16%-18%.

“Maka 2-3 tahun ke depan BRI tidak perlu menambah modal. Justru BRI perlu mengoptimalkan modal dengan cara bertumbuh,” terangnya.

Sedangkan aspek ketiga, yakni ketersediaan likuiditas yang mumpuni, dimana dengan kecukupan likuiditas tersebut, BRI mampu menekan Cost of Fund (CoF) di kisaran 1,7%. CoF tersebut merupakan yang terendah, setidaknya sejak 2019. Pada 2019, angkanya sekitar 3,6%, pada 2020 ditekan menjadi 3,2%, dan pada 2021 sekitar 2,1%.

Sunarso mengungkapkan, hal tersebut menunjukkan bahwa transformasi BRI semakin kuat, terutama dari struktur liabilitasnya sehingga mampu mempertebal ketersediaan likuiditas.

Sementara itu, Direktur Keuangan BRI, Viviana Dyah Ayu memproyeksikan pertumbuhan dalam 2-3 tahun ke depan setidaknya berada di kisaran 11%-12%. Melalui asumsi ini, kata Viviana, pada kurun 3 – 5 tahun ke depan BRI masih memiliki kesempatan untuk memberikan dividen pay out ratio yang lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi normal prapendemi.

“Tahun ini sebenarnya kami sudah memulai dividen pay out ratio yang cukup tinggi, yaitu kurang lebih 85% dari net profit di 2021. Artinya, setiap lembar saham itu menerima kurang lebih Rp 174,” ungkapnya.

Dengan kondisi permodalan saat ini, kemudian pertumbuhan di kisaran 11-12% dan juga komitmen untuk memberikan return yang optimal dalam 3 – 5 tahun ke depan, BRI masih memiliki potensi untuk memberikan dividen di atas 70%.