upah.co.id – Raksasa energi Rusia Gazprom mengatakan China akan mulai membeli gas dari Rusia dengan mata uang rubel dan yuan. Hal ini terjadi saat Moskow berupaya mendekatkan diri dengan Beijing setelah mendapatkan sanksi Barat atas aksi militernya di Ukraina.

Mengutip AFP, CEO Gazprom Alexei Miller mengatakan bahwa proses pembayaran dengan mata uang yuan ini akan memudahkan pembelian serta memberi kepraktisan dalam transaksi.

“Mekanisme pembayaran baru adalah solusi yang saling menguntungkan, tepat waktu, andal, dan praktis,” kata Miller dalam sebuah pernyataan setelah pertemuan konferensi video dengan kepala grup minyak China CNPC, Dai Houliang, dikutip Selasa, (6/9/2022).

“Itu akan menyederhanakan perhitungan dan menjadi contoh yang sangat baik bagi perusahaan lain.”

Miller juga menjelaskan terkait status pekerjaan pada proyek pasokan gas melalui ‘rute timur’ yakni lewat pipa Power of Siberia. Pipa ini akan digunakan untuk pengiriman gas ke China pada 2023 dari ladang gas Kovykta.

Menyusul pengenaan sanksi ekonomi atas serangan Kremlin di Ukraina, Rusia telah mengurangi atau menghentikan pasokan ke berbagai negara Eropa. Ini menyebabkan harga energi global melonjak.

Untuk tetap memastikan pendapatannya, Rusia berusaha untuk mencari pasar baru bagi komoditas energinya. Sebelum China, India telah terlebih dulu memborong minyak Ural yang diproduksi oleh Moskow.