upah.co.id – Sebelumnya, operator bus sempat mengeluh sulit mendapatkan stok ban untuk armadanya. Bahkan pengusaha bus membeli seluruh stok ban yang ada di toko untuk jaga-jaga adanya kelangkaan ban.

Terkait kelangkaan ban, Michelin Indonesia salah satu produsen serta importir ban bus di Indonesia angkat bicara terkait kesulitan mendapatkan ban bus dan truk jenis radial.

Kartika Susanti, Direktur Public Affairs Michelin Indonesia mengatakan, Michelin sudah mendengar dan mendapatkan respon yang sama dari rekanan dan distributor, yakni soal adanya pembatasan kuota dan izin impor .

“Ini dugaan kita ya karena memang kuota impor ban saat ini dikurangi, sepengetahuan kami ada juga importir yang tidak mendapatkan izin impor ban,” ucap Kartika kepada Kompas.com, Selasa (10/9/2022).

Kartika menjelaskan, kejadian pembatasan kuota dan izin impor ini sudah berlangsung lebih dari dua bulan. Michelin tentu menyadari dorongan pemerintah untuk memproduksi ban truk dan bus radial di dalam negeri dan mengurangi impor.

“Saat ini kapasitas produksi lokal masih sangat rendah. Michelin juga saat ini fokus meng-upgrade pabrik kami di Cikarang dan memaksimalkan utilitsasi produksi ban mobil penumpang untuk kebutuhan ekspor,” ucap Kartika.

Kartika menjelaskan, Michelin memproyeksikan ekspor ban mobil penumpang di tahun ini melebihi enam juta ban. Tahun depan pun ditargetkan adanya peningkatan volume ekspor sebesar 35 persen.

Begitu juga untuk ban motor, Michelin merencanakan peningkatan utilisasi lebih dari 60 persen dan ekspor. Saat ini Michelin masih memiliki kapasitas produksi ban motor yang cukup besar, yakni tujuh juta ban per tahun.

“Tentunya kami tidak menutup kemungkinan untuk suatu saat memproduksi ban truk dan bus radial di Indonesia jika memang demand cukup tinggi,” ucapnya.

Apalagi hal ini sejalan dengan visi Michelin ke depan untuk mendekatkan produksi dengan market yang memang membutuhkan. Tapi, untuk saat ini Michelin masih fokus pada produksi ban mobil penumpang dan ban motor.