upah.co.id – Punya cara khusus untuk mengelabui pasukan lawan, seorang hacker dari Ukraina menjebak para tentara Rusia .

Bahkan beberapa tentara di antaranya masuk ke dalam jebakan tersebut.

Perang maraton Ukraina – Rusia telah berlangsung selama enam bulan terakhir, dan pertempuran yang konsisten telah memberikan kelelahan perang kepada tentara dan warga negara.

Perang sedang dilancarkan tidak hanya di medan perang oleh tentara, tetapi juga terjadi di dunia digital oleh para peretas.

Menurut sebuah laporan oleh Financial Times sebagaimana dikutip Pikiran-Rakyat.com, peretas Ukraina menggunakan akun palsu yang menampilkan foto-foto wanita yang menarik.

Hal tersebut ditujukan untuk memikat tentara Rusia agar memberi mereka lokasi yang kemudian mereka teruskan ke militer Ukraina .

Nikita Knysh, seorang ahli TI berusia 30 tahun dari Kharkiv, mengatakan kepada Financial Times bahwa ia bermaksud menggunakan kemampuan peretasannya untuk mendukung negaranya ketika invasi Rusia yang dimulai pada 24 Februari tahun ini.

Dia meminta hacker tambahan dan memulai sebuah organisasi yang dikenal sebagai Hackyourmom.

Saat ini organisasi tersebut memiliki 30 peretas dari seluruh negara.

Dia mengeklaim bahwa mereka menipu tentara Rusia di Melitopol bulan lalu dengan memasang identitas palsu dan menyamar sebagai wanita menarik di beberapa jaringan media sosial, termasuk Telegram.

Menurut Knysh, para peretas bisa mengenal tentara Rusia dan akhirnya membuat mereka memberikan foto mereka sedang bertarung.

Para peretas dapat menentukan bahwa foto-foto para tentara itu telah diambil dari sebuah pangkalan militer Rusia yang terpencil di dekat kota Melitopol yang direbut di Ukraina selatan begitu tentara mengirimnya.

Karena invasi Moskow ke Ukraina , belum pernah ada konflik dunia maya berskala besar seperti ini.

Banyak tim yang disponsori pemerintah menggunakan kekacauan untuk berkonsentrasi pada saingan mereka.

Beberapa juga ada kelompok kriminal menggunakannya sebagai kedok untuk melakukan pencurian ransomware.

Kisah peretasan yang mereka lakukan terhadap bisnis Rusia dan pemerintah Rusia telah menyebar secara online secara global.***