upah.co.id – Program Pembangunan PBB (UNDP) melaporkan, gelombang krisis yang melanda sejak pandemi Covid-19, menghambat pembangunan manusia di dunia. Laporan tersebut belum menghitung dampak krisis pangan dan bahan bakar.

Untuk pertamakalinya sejak diluncurkan 30 tahun lalu, Indeks Pembangunan Manusia PBB mengalami kemunduran selama dua tahun berturut-turut, antara 2020 dan 2021, lapor UNDP, Kamis (8/9/2022).

Indeks tersebut mengukur kualitas hidup seorang manusia, termasuk di antaranya tingkat harapan hidup, level pendidikan dan akses terhadap kebutuhan dasar.

“Penurunan ini menandakan bahwa usia kita semakin pendek, tingkat pendidikan kita berkurang dan pendapatan kita menurun,” kata Direktur UNDP, Achim Steiner, kepada AFP.

“Cuma dengan melihat tiga parameter ini, Anda bisa merasakan betapa banyak orang mulai merasa frustasi dan khawatir terhadap masa depan,” imbuhnya.

Penurunan performa indeks selama dua tahun turut melenyapkan pencapaian selama lima tahun terakhir, menurut riset UNDP.

“Kita pernah mengalami bencana sebelumnya. Kita mengalami konflik. Tapi gabungan dari apa yang kita alami saat ini menjadi kemunduran besar bagi pembangunan manusia,” kata Steiner.

Menurut studi tersebut, kemunduran Indeks Pembangunan Manusia terjadi pada 90 persen negara-negara di dunia.

Penurunan terbesar tercatat pada negara yang kewalahan menghadapi resesi ekonomi pascapandemi. Hal ini antara lain marak di Amerika Latin, Afrika sub-Sahara, Asia Selatan dan kawasan Karibik.

Perang lumat kemajuan

Meski begitu, laporan UNDP belum menghitung dampak kelangkaan pangan dan bahan bakar yang muncul akibat invasi Rusia di Ukraina. “Tidak diragukan lagi, prospek untuk tahun 2022 sangat muram,” tutur Steiner.

Faktor terbesar yang memperkuat tren kemunduran pembangunan manusia adalah anjloknya tingkat harapan hidup di dunia, dari 73 tahun pada 2019 menjadi 71,4 tahun pada 2021.

Pedro Conceicao, yang mengepalai tim riset UNDP, menggambarkan kemunduran sebagai kejutan tiada banding, sembari menambahkan bahwa sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat (AS), mengalami penurunan selama dua tahun atau lebih.

Dalam laporannya, UNDP menulis betapa krisis iklim, globalisasi dan perpecahan politik menciptakan ketidakpastian yang belum pernah terjadi dalam sejarah manusia.

“Orang sudah kehilangan rasa saling percaya antara satu sama lain,” kata Steiner. “Jangankan institusi, tetangga pun sekarang bisa menjadi ancaman terbesar, entah itu dalam skala kecil, antarnegara atau secara global,” imbuhnya. “Situasi ini melumpuhkan kita.”

“Kita tidak bisa terus menggunakan pendekatan dari abad lalu,” tutur Steiner lagi. Menurutnya, dunia harus mengadopsi konsep ekonomi transformatif, ketimbang mengandalkan pertumbuhan sebagai tolak ukur.

“Sejujurnya, transformasi yang kita butuhkan menyaratkan kita mulai menggunakan metrik masa depan, yakni rendah emisi, minim ketimpangan dan berkelanjutan,” sambungnya.

Meski demikian, UNDP tetap melihat adanya peluang untuk memperbaiki neraca pembangunan manusia, yakni investasi energi berkelanjutan, mitigasi pandemi di masa depan, penguatan asuransi kesehatan dan inovasi untuk meningkatkan kapasitas menanggulangi krisis ekonomi dan politik.

Steiner juga mengeritik seretnya aliran dana bantuan pembangunan kepada negara-negara miskin. Menurutnya kebijakan tersebut menganggap remeh dampaknya terhadap kemampuan kita untuk bekerja sama sebagai bangsa-bangsa.