upah.co.id – Pagi itu, Bayu Irawantampak bersiap-siap di Gedung Kesenian Soetedja, Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, dengan mengenakan beskap adat Jawa.

Bocah berusia 14 tahun itu duduk di bangku deretan depan panggung bersama sejumlah tokoh Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi), baik Pepadi Jateng, Pepadi Koordinator Wilayah Eks Keresidenan Banyumas, dan Pepadi Kabupaten Banyumas.

Di gedung itu, tampak pula Komandan Korem 071/Wijayakusuma Kolonel Infanteri Yudha Airlangga, Wakil Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono, dan Komandan Kodim 0701/Banyumas Letkol Inf Iwan Dwi Prihartono.

Kehadiran para dalangmaupun pejabat tersebut di Gedung Kesenian Soetedja pada hari Minggu (4/9) itu untuk menyaksikan Festival Dalang Anak dan Remaja Eks Keresidenan Banyumas Tahun 2022 yang terselenggara atas kerja sama Pepadi Korwil Eks Keresidenan Banyumas dan Korem 071/Wijayakusuma.

Tatkala namanya dipanggil, Bayu Irawan pun langsung berjalan dengan tenang menuju ke panggung untuk tampil sebagai peserta pertama dalam Festival Dalang Anak dan Remaja itu.

Siswa kelas 8 SMP Negeri Sumbang, Kabupaten Banyumas, itu pun segera memainkan gunungan dan tokoh Hanoman dengan iringan tembang Dhandhanggula yang dilantunkan pesinden untuk membuka pergelaran wayang singkat dengan lakon “Brubuh Ngalengka”.

Bocah yang menyukai wayang kulit sejak masih masih berusia 4 tahun itu tampak lincah memainkan tokoh-tokoh wayang dalam kisah Ramayana tersebut.

Selain Bayu Irawan, festival tersebut juga diikuti tiga dalang cilik lainnya, salah satunya Fahreza Adi Sean Putra (13) yang berasal dari Desa Cinyawang, Kecamatan Patimuan, Kabupaten Cilacap.

Penampilan siswa kelas 7 SMP Negeri 1 Patimuan itu juga tidak kalah memikat. Fahreza yang membawakan lakon “Semar Mbangun Kahyangan” itu terlihat terampil memainkan tokoh-tokoh wayang dalam kisah Mahabarata.

Saat ditemui sebelum naik ke panggung, Fahreza mengaku mulai menyukai wayang ketika melihat pakdenya, Ki Dalang Sikin, sedang pentas.

Setelah itulah, dia digembleng seni pedalangan oleh Dalang Sikin mulai dari pengenalan tokoh-tokoh pewayangan hingga cara memainkan wayang termasuk karakter suara dari masing-masing tokoh pewayangan.

Dari sejumlah lakon yang dipelajari, Fahreza mengaku lakon “Semar Mbangun Kahyangan” yang paling susah karena butuh waktu beberapa hari untuk mempelajarinya.

Ia butuh waktu 4 hari untuk mempelajarilakon yang juga sering dimainkan para dalang tersohor tersebut.

Sementara Bayu Irawan mengaku mulai mempelajari seni pedalangan atas perintah kakeknya setelah mengetahui jika dia menyukai wayang kulit.

Bayu naik pentas untuk pertama kalinya saat masih duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar. Bagi Bayu, wayang merupakan kesenian yang menarik.

Bayu Irawan dan Fahreza Adi Sean Putra mengakui jika saat ini, generasi muda khususnya anak-anak, banyak yang melupakan seni wayang akibat gempuran audio visual yang berseliweran di dunia maya.

Anak-anak sekarang banyak yang lebih suka menonton film kartun dari luar negeri, mempelajari budaya asing, bermain gim daring atau gawai, dan sebagainya ketimbang menyaksikan pergelaran wayang maupun mempelajari seni tradisional Indonesia khususnya budaya Jawa.

Oleh karena itu, mereka berharap kecintaan terhadap kesenian wayang ditanamkan sejak dini, agar wayang kulit yang merupakan budaya Indonesia tetap lestari.

Agar remaja kembali mencintai wayang, seni pertunjukan ini juga perlu beradaptasi. Misalnya, dengan memangkas durasi pertunjukan tanpa harus kehilangan ruh dari seni itu sendiri sebagai hiburan, tontonan, sekaligus tuntunan.

Salah seorang dalang asal Desa Cinyawang, Kecamatan Patimuan, Kabupaten Cilacap, Sikin mengatakan sekarang ini ada tanda-tanda bahwa kesenian wayang khususnya wayang kulit kembali bangkit.

Hal itu terlihat dari makin banyaknya generasi muda yang mulai senang untuk menyaksikan pergelaran wayang kulit.

“Cuma sayangnya, sekarang yang diunggulkan (dalam pergelaran wayang) adalah campur sari,” kata pakde dari dalang anak, Fahreza Adi Saputra itu.

Semua itu merupakan upaya dalang yang merasa takut tidak laku diundang untuk menyajikan pergelaran wayang kulit.

Kendati demikian, Ki Dalang Sikin mengaku tetap menyajikan pergelaran wayang kulit klasik tanpa dibumbui dengan musik campursari.

Terkait dengan upaya untuk membumikan kesenian wayang khususnya wayang kulit pada generasi muda, Sikin mengatakan hal itu dapat dilakukan melalui latihan rutin sedini mungkin agar rasa cinta terhadap wayang bisa tumbuh.

Selain itu, anak-anak tersebut juga perlu dilatih tentang bagaimana cara mendalang yang baik, termasuk gaya “sabetan” wayang kulit sehingga dapat membuat orang yang menontonnya menjadi senang.

Dengan demikian, akan semakin banyak orang yang mengundang dalang itu untuk menyajikan pergelaran wayang kulit di berbagai acara.

Kebangkitan wayang

Meskipun modernisasi dan globalisasi terus merangsek ke berbagai lini kehidupan di Indonesia, Koordinator Wilayah PepadiEks Keresidenan Banyumas Bambang Barata Aji optimistis kesenian tradisional khususnya wayang kulit dan pedalangan tidak akan sirna dari Bumi Pertiwi.

Jika wayang kulit seakan ditinggalkan masyarakat seiring dengan makin jarangnya pertunjukan atau pergelaran wayang kulit, itu bukan disebabkan masyarakat tidak suka tapi ada sebab lain yang lebih dominan.

“Mungkin karena mahal, jadi banyak yang enggan untuk nanggap (menggelar pertunjukan, red.) wayang kulit,” ujar pria yang akrab disapa BBA

Akan tetapi dalam beberapa waktu terakhir, generasi muda khususnya di Kabupaten Banyumas mulai terlihat kecintaannya terhadap seni tradisional seperti kuda lumping atau ebeg, yang terlihat dari banyaknya anak-anak muda yang ingin menyaksikan pertunjukan kesenian tersebut.

Hal itu diharapkan juga terjadi pada wayang kulit yang saat ini penggemarnya tergolong minim. Demikian pula dengan pemain wayang kulitnya atau yang biasa disebut dengan dalang pun jumlahnya sangat sedikit.

Oleh karena itulah, Korwil Pepadi Eks Keresidenan Banyumas bekerja sama dengan Korem 071/Banyumas menggelar Festival Dalang Anak dan Remaja pada tanggal 4 September 2022 sebagai upaya melahirkan dalang-dalang baru sebagai ikhtiar regenerasi agar seni pewayangan dan pedalangan tetap lestari.

Ada yang menarik dari festival dalang anak tersebut karena salah satu pesertanya, yakni Fahreza Adi Sean Putra, berasal dari keluarga sederhana dan bukan merupakan keturunan dalang.

Biasanya, anak-anak yang ingin jadi dalang itu ada garis keturunan dalang, entah dari ayah atau kakeknya.

Akan tetapi, Fahreza bukan keturunan dalang dan dia belajar dari pakdenya yang seorang dalang.

Demikian pula dengan salah seorang dalang remaja yang dalam festival tersebut, Panji Laksono yang berasal dari Kabupaten Banyumas, juga bukan anakdalang.

Dalang remaja yang merupakan cucu keponakan Ki Dalang Sugito itu berani bereksperiman dengan membawakan lakon “Babad Kamandaka” menggunakan bahasa Jawa dialek Banyumasan.

Hal itu sebagai salah satu wujud jika sebenarnya seni wayang dan pedalangan masih digandrungi oleh masyarakat khususnya generasi muda.

Oleh karena itu, Bambang berupaya melestarikan seni pewayangan dan pedalangan, antara lain, melalui festival dalang anak tersebut.

Salah satu yang dilakukan adalah dengan memberi kesempatan kepada anak-anak untuk belajar seni pewayangan dan pedalangan di rumah almarhum ayahanda Bambang, yakni Ki Dalang Nawan di Desa Karangnangka, Kecamatan Kedungbanteng, Banyumas.

Akan tetapi sebelum anak-anak itu belajar seni pewayangan dan pedalangan, mereka terlebih dahulu diajarkan seni karawitan.

Menuju kelestarian

Wakil Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mengatakan wayang merupakan peninggalan merupakan peninggalan luhur bangsa Indonesia dan menjadi budaya yang adiluhung.

Bahkan, saat Wali Sanga menyebarkan ajaran agama Islam di Nusantara, hal itu dilakukan berkolaborasi dengan budaya asli Indonesia, salah satunya wayang kulit sehingga bisa diterima masyarakat.

Terkait dengan hal itu, Sadewo yang juga Ketua Dewan Kesenian Banyumas menyambut baik festival dalang anak yang digelar Korwil Pepadi Eks Keresidenan Banyumas dengan harapan dapat menuntun warisan seni budaya wayang menuju kelestarian dan terwariskan.

Selain itu, Pemerintah Kabupaten Banyumas siap memberikan dukungan terhadap keberlangsungan festival dalang anak agar bisa digelar secara rutin setiap tahun dalam rangka melestarikan seni budaya wayang kulit.

Sementara itu, Danrem 071/Wijayakusuma Kolonel Inf Yudha Airlangga mengharapkan melalui Festival Dalang Anak dan Remaja yang digelar Korwil Pepadi Eks Keresidenan Banyumas bekerja sama dengan Korem 071/Wijayakusuma tersebut dapat dicari bibit-bibit dalang karena generasi muda khususnya anak-anak akan menjadi penerus bangsa.

Dengan demikian, budaya bangsa khususnya pewayangan dapat tumbuh dan berkembang di tengah gempuran nilai-nilai budaya dari luar.

Kendati wayang kulit saat sekarang dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat, keberadaannya telah diakui oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization/UNESCO).

Bahkan, UNESCO pada tanggal 7 November 2003 telah menetapkan pertunjukan wayang kulit sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity atau karya kebudayaan yang mengagumkan di bidang cerita narasi dan warisan budaya yang indah dan berharga.

Oleh karena itu, kini saatnya generasi muda membumikan kecintaannya terhadap wayang kulit agar tetap lestari dan terwariskan kepada generasi berikutnya. ***3***