upah.co.id – Menikah adalah sebuah langkah hidup yang mana membuat seseorang akan mengalami suatu petualangan baru kehidupan tatkala menjadi satu dengan pujaan hati dengan cara yang sah oleh agama dan hukum negara. Tidak hanya bertanggung jawab pada pasangan, pernikahan berarti juga berani bertanggung jawab pada seluruh anggota keluarganya.

Sehubungan dengan pertanyaan tersebut, kami rangkumkan jawaban dari seorang ulama yang menjelaskan apakah boleh kita menikah di bulan Safar.

Buya memperingatkan umat Islam agar tidak meyakini hal-hal yang menyatakan bahwa bulan safar merupakan bulan sengsara atau bulan sial.

“Semua hari adalah baik. Di bulan safar boleh menikah. Jangan percaya dengan keyakinan semacam itu ( yang berkata ) ada bulan sengsara, bulan nyungsep, bulan ini bagaimana,” ujar Buya.

Menurut Buya, hari yang penuh kesengsaraan itu adalah hari di mana kita berbuat dholim kepada sesama. Sementara menikah itu memiliki tujuan yang baik. Maka dari itu, tidak masalah menikah di bulan Safar.

Penjelasan Buya Yahya di atas dapat disimak di channel Yotube Al-Bahjah TV dengan judul “Hukum Menikah di Bulan Safar | Buya Yahya Menjawab”.

Selain itu, perlu diketahui bahwa pernikahan Rasulullah dengan Sayyidah Khadijah itu berlangsung di bulan Safar. Hal ini sesuai riwayat Ibnu Ishak, Rasulullah SAW menikahi Sayyidah Khadijah binti Khuwailid yang disebut sebagai “Ummul Mukminin” tepat pada bulan Safar, yakni ketika Rasulullah SAW berusia 26 tahun.

Bahkan sahabat nabi, Ali bin Abi Thalib RA menikah juga pada bulan Safar. Menurut keterangan Ibnu Katsir, bulan Safar juga menjadi bulan pernikahan putri Rasulullah, Sayyidah Fatimah RA dengan sahabatnya yang pandai, yakni Ali bin Abi Thalib RA. Keduanya resmi menikah tepat pada bulan Safar di tahun ke-2 Hijriah.

Demikian itu keterangan yang dapat disampaikan tentang hukum dan pandangan Islam tentang menikah di bulan Safar. Semoga dapat dimengerti.