upah.co.id – Seorang pendukung Presiden Brasil Jair Bolsonaro membunuh seorang pendukung capres Brasil, Lula da Silva , dalam adu argumen soal politik di wilayah pinggiran negara itu. Pembunuhan itu dilakukan secara keji dengan sebuah kapak.

Seperti dilansir AFP, Sabtu (10/9/2022), tindak kejahatan ini terjadi di sebuah peternakan di wilayah Confresa, yang berpenduduk 30.000 orang, yang terletak di negara bagian Mato Grosso pada Rabu (7/9) waktu setempat.

Korban tewas yang diidentifikasi sebagai Benedito Cardoso (42) terlibat perdebatan soal politik dengan tersangka yang berusia 24 tahun — identitasnya tidak diungkap ke publik, menjelang pemilu 2 Oktober yang akan digelar di Brasil.

Dalam pemilu yang juga akan memilih Presiden baru bagi Brasil itu, Bolsonaro maju sebagai capres petahana melawan Da Silva yang pernah menjabat Presiden Brasil periode tahun 2003-2010.

Victor Donizete de Oliveira Pereira dari kepolisian sipil di Confresa menyatakan bahwa pembunuhan terjadi saat korban dan tersangka hanya berdua di dalam sebuah properti. Keduanya terlibat ‘adu argumen bermotif politik’ sebelum tindak penyerangan yang berujung kematian itu terjadi.

“Korban membela Lula dan pelaku mengatakan dirinya membela Bolsonaro,” sebut Oliveira Pereira dalam pernyataannya.

Dituturkan Oliveira Pereira bahwa korban awalnya meninju tersangka, yang memukul balik. Korban kemudian mengambil pisau, namun tersangka berhasil merebut pisau tersebut darinya, lalu mengejar korban dan menyerangnya dengan pisau itu.

Saat korban terbaring di atas tanah, tersangka mengambil sebuah kapak dan membacoknya sebanyak 15 kali.

Tersangka kemudian berusaha menyembunyikan senjata pembunuhan itu dan melarikan diri. Namun tersangka berhasil ditangkap setelah pergi ke rumah sakit untuk mencari bantuan medis.

Pembunuhan keji itu terjadi saat Brasil mengalami kampanye politik yang paling terpolarisasi dalam beberapa dekade. Saat ketegangan meningkat, Kepolisian Brasil meningkatkan pengamanan di acara-acara kampanye politik.

Baik Bolsonaro maupun Da Silva bahkan harus mengenakan rompi antipeluru dan menghindari kontak dekat dengan para pendukungnya selama berkampanye.