upah.co.idMenurutnya, apabila pertama kali masyarakat percaya dengan skenario pertama yaitu tembak menembak. Maka masyarakat akan tetap mempercayai hal itu.

Namun, tiba-tiba berubah ada skenario grup, sehingga masyarakat kembali mempercayai skenario baru tersebut.

“Pertama kita percaya (tembak-menembak), ada yang kedua (pembunuhan dilakukan berkelompok), kita tinggalkan skenario pertama dan percaya skenario kedua. Bukan tidak mungkin ada skenario ketiga, dan ternyata benar ada skenario ketiga,” tutur Otto Hasibuan , dikutip Pikiran-Rakyat.com dari kanal YouTube Indonesia Lawyers Club.

Otto menduga bahwa akan ada skenario keempat, mengingat semua yang terlibat dalam kasus Ferdy Sambo memiliki versinya masing-masing.

“Semuanya gak linier, Komnas ngomong A, Kompolnas ngomong B, Pengacara Josua ngomong C, Pengacara Bharada E ngomong D. Semua informasi ini berbeda-berbeda. Saya aja mulai bingung, apalagi masyarakat. Karena informasi selalu berubah-ubah,” tuturnya.

Hingga saat ini, Otto mengungkapkan bahwa dirinya masih menunggu keterangan dari Pengacara Sambo.

Ia pun mulai berpikir bahwa pihak-pihak yang terlibat menceritakan keterangan dari versinya sendiri dan tidak merujuk pada produce justice yang sebenarnya.

Hal itulah yang menurut Otto menyebabkan adanya perdebatan antara pembunuhan ini dilakukan berencana atau bukan.

“ Bharada E tidak pernah dengan tegas mengatakan, saya ‘dor dor dor’ ke tubuhnya si Josua. Bharada E menyatakan dia dipanggil ke atas. Kemudian ketika itu dia sudah melihat si Josua bersujud, tangannya di belakang,” ujar Otto.

Sehingga, Otto menduga kemungkinan posisi Bharada E tidak mungkin berada di belakang Sambo, melainkan ada di antara samping kiri atau kanan, maupun belakang tubuh Brigadir J.

“Kalau di belakang Josua, maka wajar sekali kalau ada peluru kena kepala (kepala belakang) Josua. Tapi yang dari dada, tidak mungkin Bharada E menembakkan itu,” ujarnya.

Baca Juga: PPKM Level 1 Resmi Diberlakukan, Pemerintah: Vaksin Booster Harus Terus Disosialisasikan

Menurut Otto, jika Sambo hanya sekedar menyuruh Bharada E untuk menembak. Maka Bharada E pasti akan menembak di bagian kaki tanpa membunuh. Namun, justru yang dilakukan dalam kasus ini ialah pembunuhan. Sehingga ini menjadi permasalahan serius dalam praktek peradilan.

Otto mengungkapkan, seandainya kasus ini dibawa ke peradilan, maka saksi dan pelaku pembunuhnya adalah orang yang sama. Sehingga, ia menyebut jika semua pelaku memberikan kesaksian yang seragam, maka hasil peradilannya pun akan sama.

Menurut Pakar Hukum Pidana itu, kasus Brigadir J sebetulnya tidak akan sulit apabila sedari awal tidak ada perubahan cerita dan kesaksian yang berbeda-beda. Namun, karena banyak perbedaan kesaksian yang diberikan, sehingga belik hukum dalam kasus ini pun menjadi lebih sulit.(Tini Fitriyani)***