upah.co.id – arga minyak mentah dunia mengalami penurunan pada perdagangan Selasa (6/9/2022). Penurunan harga minyak mentah terjadi menyusul kekhawatiran tentang prospek kenaikan suku bunga, serta penguncian akibat Covid-19 yang menurunkan permintaan.

Mengutip CNBC, harga minyak mentah Brent menetap turun 3 persen di level 92,83 dollar AS per barrel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) AS turun dari menjadi 86,88 dollar AS per barrel.

Tamas Varga dari broker minyak PVM mengatakan, saat ini kabar kebijakan OPEC+ menjadi isu utama yang mempengaruhi harga minyak mentah dunia . Organisasi pengekspor minyak tersebut berencana melakukan penurunan target produksi, yang mana hal ini merupaakan pertama kalinya sejak tahun 2020.

“Berita OPEC+ membayangi pasar dan menjadi fokus sementara, setelah sebelumnya kekhawatiran muncul dari inflasi, perpanjangan penguncian Covid-19 di China, dan keputusan suku bunga European Central Bank (ECB) hari Kamis,” kata Tamas Varga.

Baru-baru ini, China telah melonggarkan beberapa pembatasan Covid-19, tetapi memperpanjang lockdown di Chengdu. Hal ini menambah kekhawatiran bahwa inflasi yang tinggi dan kenaikan suku bunga akan memukul permintaan minyak. Bank Sentral Eropa juga diperkirakan akan menaikkan suku bunga tajam saat pertemuan yang akan dilakukan hari Kamis pekan ini.

Di sisi lain, nilai dollar AS bergerak naik sekitar 0,6 persen, karena data pertumbuhan industri jasa AS yang lebih baik dari perkiraan. Hal ini juga memberi tekanan pada harga minyak mentah. Sementara itu, Federal Reserve diperkirakan akan terus menaikkan suku bunga, yang dapat memicu resesi dan menurunkan permintaan bahan bakar.

“Pada dasarnya, ini semua tentang pasokan yang ketat dan kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi yang mungkin terjadi di masa depan telah menciptakan banyak ketidakpastian di pasar,” kata Phil Flynn, analis di grup Price Futures di Chicago.

Bob Yawger, direktur energi berjangka di Mizuho mengatakan, tanda-tanda untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Iran juga membayangi pasar. Hal ini dikhawatirkan akan mendorong OPEC+ untuk mengurangi produksinya.

Di awal pekan ini, OPEC+, memutuskan untuk memangkas target produksi untuk kontrak Oktober sebesar 100.000 barel per hari (bph). Hal ini mendorong gejolak harga di akhir pekan lalu.