upah.co.id – Raksasa energi Rusia Gazprom mengatakan bahwa China akan mulai membayar gas Rusia dalam yuan dan rubel, bukan dollar AS, saat Moskwa mencari hubungan lebih dekat dengan Beijing setelah sanksi Barat ke Rusia atas invasi Ukraina .

“Transisi dilakukan untuk melakukan pembayaran pasokan gas Rusia ke China dalam mata uang nasional kedua negara – rubel dan yuan,” kata Gazprom dalam sebuah pernyataan sebagaimana dilansir AFP.

“Mekanisme pembayaran baru adalah solusi yang saling menguntungkan, tepat waktu, andal, dan praktis,” kata CEO Gazprom Alexei Miller seperti dikutip dalam pernyataan setelah pertemuan konferensi video dengan kepala grup minyak China CNPC, Dai Houliang.

Miller menambahkan bahwa itu akan “menyederhanakan perhitungan” dan “menjadi contoh yang sangat baik bagi perusahaan lain”.

Miller juga memberi informasi ke rekan Chinanya tentang “status pekerjaan pada proyek pasokan gas melalui ‘rute timur’ – pipa gas ‘Power of Siberia’,” yang menghubungkan jaringan gas Rusia dan China, tambah Gazprom.

Raksasa energi Rusia itu mengatakan gas dari ladang Kovykta yang kurang berkembang akan mulai mengalir melalui Power of Siberia “sebelum akhir tahun.” Itu memungkinkan “peningkatan (dalam) volume pengiriman gas ke China pada 2023.

Menyusul pengenaan sanksi ekonomi atas serangan Rusia ke Ukraina , Rusia telah mengurangi atau menghentikan pasokan ke berbagai negara Eropa, dan menyebabkan harga energi melonjak.

Sementara itu, Kremlin kini berusaha untuk meningkatkan hubungan dengan sekutu di Asia – terutama China – dan meningkatkan pengiriman gas alam ke pasar di luar Eropa.