Setelah Vonis Dijatuhkan: Terus Terbanting atau Bangkit Melenting?

upah.co.id – banyak vonis yang dijatuhkan di dalam hidup manusia. Dokter memberikan vonis atas diagnosis penyakit.

Bagian SDM perusahaan menjatuhkan vonis pemberhentian hubungan kerja. Perceraian, kebangkrutan.

Tuhan mengambil keputusan untuk memanggil pulang orang yang kita kasihi. Hakim menjatuhkan vonis kepada terdakwa. Dan masih ada banyak jenis vonis-vonis lain.

Atas peristiwa-peristiwa itu, reaksi manusia bisa sedih, kecewa, kaget, marah, dan lain-lain. Reaksi itu disebut dengan state, yaitu gabungan atau sebuah sistem mental dan fisik, mind and body system.

State tadi terkategori dalam state primer karena merupakan respons langsung dari sebuah stimulus dari eksternal.

State primer tadi dibawa masuk ke dalam pikiran dan perasaan, semakin dirasa, semakin dipikir sehingga dapat berdampak pada kesimpulan yang lebih kuat dibanding hanya sekadar state primer. Di sini kita sudah berada di ranah meta.

Misalnya, vonis “diberhentikan dari pekerjaan”, maka muncul state primer, yaitu sedih. Lalu mulai terjadi penambahan di internal:

Saya sungguh kecewa pada diri saya sendiri ternyata saya memang bego sehingga tidak dipertahankan oleh perusahaan.

Ada yang salah dengan diri saya sehingga selalu gagal. Bagaimana saya bisa dapat kerja lagi? Saya akan menganggur. Kegagalan di pekerjaan saya akan membuat keluargaku terpuruk, anak-anakku bisa telantar.

Jika demikian, maka “Setelah vonis dijatuhkan, saya terus terbanting.”

Kita tahu bahwa dalam kehidupan ada naik dan turun. Pada saat kita mendapat vonis yang tidak diharapkan, beberapa referensi dapat dijadikan acuan agar kita mampu membuat respons yang memberdayakan.

Vonis yang sudah final dijatuhkan dan ada dalam kendali eksternal sebaiknya direspons dengan baik sesuai dengan tahap-tahapnya.

Elizabeth Kubler-Ross telah memetakan—bahwa ketika seseorang mengalami kesedihan yang parah, orang tersebut melewati tahap penyangkalan (denial), kemarahan (anger), tawar-menawar (bargaining), depresi (depression), dan penerimaan (acceptance). Sadari dan berikan ruang agar setiap tahapan itu bergerak menuju penerimaan.

Viktor Frankl, M.D., Ph.D., pendiri Logoterapi adalah penyintas kamp konsentrasi Nazi. Sebagai tawanan, Frankl menuangkan inspirasi dari perjuangannya—dengan diri sendiri—melalui buku Man’s Search for Meaning.

Buku ini telah mengubah hidup banyak orang, terjual lebih dari 16 juta eksemplar di seluruh dunia dan diterbitkan dalam 49 bahasa.

Frankl menemukan ada tiga kemungkinan sumber makna hidup, yaitu melakukan sesuatu yang penting, memedulikan orang lain, dan membangun keberanian di saat-saat sulit.

Siksaan holocaust Hitler yang diterimanya sejatinya tidak memiliki makna, manusialah yang memberi makna dan pilihlah makna yang lebih memberdayakan.

Setelah vonis dijatuhkan, lalu… Melentinglah!

Bounching, melenting, analogi yang sering digunakan untuk menunjukkan bahwa walaupun posisi sedang jatuh—di bawah, namun seperti bola mampu mengangkat dirinya kembali, bounching back.

Martin Seligman, seorang psikolog Amerika yang mempelajari tentang pesimisme dan optimisme. Berikut kesimpulannya.

Dalam sebuah kondisi menerima vonis, seringkali orang akan berpikir 3P, yaitu.

  • Personalization (personalisasi). Menganggap bahkan masalah ini berpusat pada diri sendiri, menyalahkan diri sendiri berlebihan, menihilkan nilai diri sehingga tidak akan mampu membangun efikasi diri untuk bangkit.
  • Permanence (permanen). Situasi buruk ini akan berlangsung selamanya. Tidak ada harapan, badai ini akan terus melanda.
  • Pervasiveness (pervasif). Masalah ini akan terus menular dan memberi dampak buruk ke aspek-aspek lain bahkan semua aspek hidup.

Ketiga P di atas berdampak pada kondisi tanpa harapan, tak mungkin tertolong lagi (helplessness), pesimisme. Vonis akan terus menyusutkan diri dan menelan energi untuk bangkit.

Bagaimana mengatasi 3P di atas adalah dengan 3T, yaitu There-Then-That. Mari gunakan contoh vonis kehilangan pekerjaan di atas.

  • There (Di sana, eksternal). Ada kontribusi eksternal, sebuah sistem, bukan melulu tentang buruknya saya. Ini bukan tentang menyalahkan orang lain dan melepas tanggung jawab, tapi dalam rangka tidak membenamkan diri dalam rasa bersalah yang parah. “Oh, perusahaan ini memang sedang berjuang, kompetisi kian ketat dan butuh penyesuaian jumlah karyawan.” Atau dapat juga fakta bahwa “Kompetensi saya tidak memenuhi kebutuhan perusahaan saat ini karena perubahan yang cepat.”
  • Then (Kemudian, sementara waktu). Keadaan ini terjadi saat ini, ada potensi perubahan dan hal lebih baik di masa depan. “Saya akan menemukan pekerjaan lain segera.”
  • That (Spesifik). Kondisi buruk ini terjadi pada konteks tertentu ini saja. “Masalah ini terkait pekerjaan, bukan berarti aspek lain akan memburuk. Jika ada dampak, akan dapat dikelola dan dikendalikan.”

Setiap kita akan bertemu dengan vonis masing-masing. Saat itu terjadi, pastikan kita masih mampu melanjutkan hidup, bahkan dengan lebih baik.

Asah kemampuan melenting, agar kita bangkit dari posisi terbanting.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!