upah.co.id – Keputusan pemerintah untuk menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi diyakini akan berdampak terhadap kondisi perekonomian nasional. Dalam jangka pendek, harga BBM yang lebih tinggi tentu akan mengkerek tingkat inflasi dan mengganggu daya beli masyarakat.

Namun demikian, Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Krizia Maulana mengatakan, kenaikan harga BBM bersubsidi ini sebetulnya sudah diantisipasi oleh pasar. Di sisi lain, momentum pemulihan ekonomi Indonesia saat ini telah ada di level penguatan, sehingga dampak dari kenaikan telah dimitigasi.

“Beragam indikator ekonomi masih menunjukkan pemulihan ekonomi yang kuat hingga beberapa waktu ke depan, meski ada faktor kenaikan harga BBM bersubsidi yang berpotensi menaikkan angka inflasi,” tutur dia, dalam keterangannya, Selasa (6/9/2022).

Menurutnya, justru yang harus diwaspadai investor saat ini lebih ke faktor global, di mana pengetatan bank sentral yang terlalu agresif, berpotensi mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi global. Selain itu, masih belum selesainya konflik Rusia-Ukraina turut berdampak pada harga komoditas dan tekanan inflasi.

“Ini dapat mempengaruhi kebijakan moneter bank sentral global,” ujarnya.

Pilihan investasi

Di tengah kondisi perekonomian yang tidak menentu, utamanya berasal dari kabar global, Krizia menilai pasar saham nasional masih berpotensi tumbuh ke depan. Ini ditopang oleh kondisi makro ekonomi Indonesia yang lebih solid yang disertai dengan pertumbuhan laba perusahaan.

Ia mengungkapkan, dalam jangka panjang, peluang investasi di reksa dana saham jelas masih menarik. Namun di tengah situasi global yang masih volatil, ada baiknya investor melakukan diversifikasi aset dan menambah porsi kepemilikan investasi di instrumen yang memiliki tingkat korelasi rendah antar aset pada portofolionya.

“Contohnya seperti di reksa dana campuran,” ujar dia.

Kondisi pasar yang dinamis menawarkan peluang yang menarik bagi investor. Berinvestasi pada beragam jenis kelas aset reksa dana sekaligus, seperti saham, obligasi, dan pasar uang dalam satu portofolio investasi dapat menjadi cara yang efektif untuk meraup peluang guna memacu pertumbuhan investasi kita.

“Reksa dana campuran memungkinkan investor untuk mendapatkan return yang lebih optimal dengan risk yang lebih terjaga,” kata Kriziai.

Sebagai gambaran adalah reksa dana campuran Manulife Dana Tumbuh Berimbang (MDTB). Dalam setahun terakhir, reksa dana MDTB mencatatkan kinerja 7,91 persen hingga akhir Juli kemarin.

“Pasar saham ke depannya masih memberikan peluang yang menarik. Perlu diingat juga bahwa investor sebaiknya tetap melakukan diversifikasi pada investasinya, terlebih karena masih adanya tekanan dari global,” ucap Krizia.